Siswa Surabaya Membuat Solusi Anti-Tidur untuk Mencegah Kecelakaan

Teknologi untuk sepeda motor kembali dari Surabaya. Setelah sebelumnya sekelompok mahasiswa ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) mempresentasikan sepeda motor listrik dalam bentuk Gesits, kali ini SCB lahir dari tangan tiga arek-arek Surabaya. SCB sendiri adalah manfaat dari kontrol tidur untuk pengendara motor.

“Alasan penciptaan alat ini adalah karena banyak pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan karena mengantuk di jalan. Kami membuat alat ini untuk mengurangi jumlah kecelakaan,” kata Elviana Arisaputri, salah satu desainer SCB.
antara meluncurkan alat ini sendiri adalah karya tiga mahasiswa Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS). Elviana dan dua rekannya, Dliyauddin ‘I dan Kevin Natanael dikatakan menghabiskan Rp1,3 juta untuk modal awal dan penelitian.

Siswa Surabaya Membuat Solusi Anti-Tidur untuk Mencegah Kecelakaan
Siswa Surabaya Membuat Solusi Anti-Tidur untuk Mencegah Kecelakaan

Lalu bagaimana Anda mengerjakan alat ini?

Menurut Elviana, SCB bekerja dengan memberikan peringatan kepada pengemudi jika terdeteksi ada tanda-tanda mengantuk. Alat ini sendiri terbagi menjadi dua komponen, satu disematkan ke helm dan satunya lagi dalam bentuk gelang.

“Di gelang yang terdiri dari sensor pulsa, ada notifikasi di gelang. Dua perangkat yang ada di helm akan menampilkan suara melalui headset bluetooth,” jelas Elviana.

“Setelah itu ada notifikasi pada LCD berupa peringatan nada bahwa kita harus menepi karena kita mengantuk,” tambahnya.

Elviana juga menambahkan bahwa mendeteksi tingkat kantuk dilakukan dengan mengukur frekuensi. Secara umum, frekuensi orang mengantuk adalah ketika mereka menunjukkan angka 40 atau lebih kecil.

Karena masih dalam bentuk prototipe, komponen yang digunakan hingga saat ini masih dalam bentuk modul. Meski begitu, jika nantinya alat ini bisa dikembangkan lebih lanjut mereka berencana membuat komponen sendiri.

“Kami hanya perlu memprogram dan menghubungkan komunikasi data melalui desain untuk pulsa. Kami menggunakan sensor yang lebih akurat di pergelangan tangan,” katanya.

Ditanya tentang harapan, mereka tidak muluk-muluk, “Semoga jika ada dana dan waktu kita ingin lebih berkembang di sisi mekanik dan bentuk menjadi lebih kecil. Di helm juga lebih aman,” simpul Elviana.

Leave a Reply